Faithness

08.32 Edit This 1 Comment »
Memulai fajar dengan takbir
Terbimbing untuk kesekian kalinya menjadi tujuan
Tiap tarik nafas untuk mencari arti
Tak tertemukan eksistensi itu

Bibir berucap "i'am a devil"
Fikir berteriak untuk mencari
Mata menguak sekat awan

Apa substansi segalanya?

Dan ujung pemahaman

Tak ada substansi...
Tak ada materi...
Tak ada yang perlu dicari

Karena semua bermuara pada "percaya"

Uraian huruf-huruf dalam perjalananku

08.23 Edit This 0 Comments »
Huhhh... keluhan seperti itu terulang kembali (eeelooooohhhh yang mana?), hari ini aku berjalan mondar-mandir muterin Jakarta (ampe' apal dimana letak warteg2 di jakarta kali'). Tapi, eitsss...B-E-D-A...!!!, y ada yang beda dengan perjalananku di hari ini, mataku menerawang dalam renungan yang paling "maknyos". Apa yang aku lihat di depan pupilku semuanya membentuk angka 1 yang samar-samar, mulai dari tiang listrik, tiang penyangga flyover, motor yang berdiri tegak, semuanya merepresentasikan angka 1, waktu itu aku berfikir.

Schimmel menguak misteri angka 1 melalui mata batin keagamaan. Angka satu disebutnya sebagai simbol ideal daripada Tuhan kerana Tuhan adalah roh yang dengan sendirinya tidak mempunyai sifat-sifat material. Juga tidak punya lawan. Satu 'Mutlak' dan 'Satu' yang khas wujud-Nya.

Dalam kajian matematika angka 1 diartikan sebagai perlambang "identitas", dalam perkalian, jika sebuah bilangan dikali 1, maka yang muncul adalah bilangan itu sendiri (exp. 1 x n = n), begitu juga dengan perpangkatan dan pembagian. Bahkan karena begitu uniknya angka 1 ini, orang yunani menganggap angka 1 bukan sebagai angka, akan tetapi sebagai unit.

Dalam wilayah sihir-menyihir 1 disimbolkan sebagai Sang Penyihir

Jadi apakah arti angka 1 dari perjalananku hari ini? angka 1 ini muncul ketika aku banyak mengeluh, angka 1 ini mencuri fikirku ketika aku berkendara--suatu kegiatan yang memerlukan tingkat kefokusan tinggi. Apakah ini artinya? apakah angka 1 yang aku lihat sebagai representasi Tuhan? (Schimmel), apakah angka 1 yang ada pada tiang listrik itu sebagai identitas tiang itu sendiri sebagai tiang? (matematis) atau angka 1 itu adalah nenek sihir dengan tongkat dan baju hitamnya, yang telah menghipnotisku di jalan yang ramai itu? (simbol kartu tarot)



Mungkin arti angka 1 yang lebih cocok untuk aku pahami di waktu adalah, bahwa 1 adalah simbol kebijaksanaan, ide, dan pionir, oleh sebab itu karena angka 1 itu muncul ketika aku sedang banyak mengeluh, maka aku dituntut untuk menyikapinya dengan bijak mengenai keluhanku itu, dan dia yang datang dengan cara mencuri kefokusanku ketika berkendara, mengartikan bahwa fokus pada materi yang ada dihadapanku waktu berkendara itu pada ujungnya akan membawa fisik dan sukmo pada Sang "1" itu juga, yaitu Sang Pemilik Identitas (Schimmel & dalam matematika).

Falsafah Ekonomi Islam

08.17 Edit This 0 Comments »
Selasa, 2009 Februari 24

Tulisan ini D2p (penulis) tulis ketika menanggapi tulisan teman dalam Blog pribadinya yang berjudul agama & ekonomi di http://azerila.wordpress.com/2009/01/26/agama-dan-ekonomi.

Dalam tulisan tersebut teman saya tidak sependapat dengan islamisasi ilmu ekonomi (konsep yang ditawarkan oleh Ismail Faruqi untuk menyegarkan kembali ilmu-ilmu Islam), dengan alasan bahwa nilai filosofi antara keduanya (ekonomi islam dan konvensional) memiliki perbedaan mendasar. Dalam tulisan tersebut dia (teman saya yang paling ulung dalam dunia tulis menulis ini) membangun pondasi alasannya dimulai dari adanya perbedaan point of view dari masing-masing ilmu ekonomi tersebut dalam memandang agama.

Tanggapan D2p:

Hem…akyu setuju sekali Li, yang aku pahami juga kurang lebih mirip dengan apa yang dikau kemukakan. Bahwa titik tolak ekonomi islam itu berangkat dari ketauhidan, sedangkan kapitalisme (baca: ekonomi barat) bertolak dari utility marginal yang individualistik, sedangkan untuk sosialis, bertolak dari pembuatan mekanisme produksi yang langsung di pegang oleh legal otoriter (Pemerintah) untuk kepentingan kaum proletar–yang dalam banyak literatur dikatakan over expression–yang tertindas. Falsafah ekonomi Islam ini berangkat dari keserasian kerjasama antara Tuhan, Manusia dan alam, yang disebut oleh Bapak Mohammad Hidayat sebagai konsep “filsafat triangle”. Konsep ini membentuk sebuah bangunan piramid, dimana Tuhan berada pada posisi teratas (central) untuk memberikan irama perekonomian. Akan tetapi sayangnya bagi kaum prokapitalism & sosialism, bangunan piramid ini diputarbalikan menjadi sesuatu yang bukan pada rotasinya, yaitu manusia menjadi titik epicentrum dari triangle tersebut, hingga akhirnya isme-isme yang humanitarian focus membentuk diri pribadi-pribadi manusia misoriented dalam tindakan ke-ekonomiannya, yaitu manusia yang konsumerisme, materialistik bahkan liberal economist.
Wa Allahu a’lam bi ash-shawab