Falsafah Ekonomi Islam

08.17 Edit This 0 Comments »
Selasa, 2009 Februari 24

Tulisan ini D2p (penulis) tulis ketika menanggapi tulisan teman dalam Blog pribadinya yang berjudul agama & ekonomi di http://azerila.wordpress.com/2009/01/26/agama-dan-ekonomi.

Dalam tulisan tersebut teman saya tidak sependapat dengan islamisasi ilmu ekonomi (konsep yang ditawarkan oleh Ismail Faruqi untuk menyegarkan kembali ilmu-ilmu Islam), dengan alasan bahwa nilai filosofi antara keduanya (ekonomi islam dan konvensional) memiliki perbedaan mendasar. Dalam tulisan tersebut dia (teman saya yang paling ulung dalam dunia tulis menulis ini) membangun pondasi alasannya dimulai dari adanya perbedaan point of view dari masing-masing ilmu ekonomi tersebut dalam memandang agama.

Tanggapan D2p:

Hem…akyu setuju sekali Li, yang aku pahami juga kurang lebih mirip dengan apa yang dikau kemukakan. Bahwa titik tolak ekonomi islam itu berangkat dari ketauhidan, sedangkan kapitalisme (baca: ekonomi barat) bertolak dari utility marginal yang individualistik, sedangkan untuk sosialis, bertolak dari pembuatan mekanisme produksi yang langsung di pegang oleh legal otoriter (Pemerintah) untuk kepentingan kaum proletar–yang dalam banyak literatur dikatakan over expression–yang tertindas. Falsafah ekonomi Islam ini berangkat dari keserasian kerjasama antara Tuhan, Manusia dan alam, yang disebut oleh Bapak Mohammad Hidayat sebagai konsep “filsafat triangle”. Konsep ini membentuk sebuah bangunan piramid, dimana Tuhan berada pada posisi teratas (central) untuk memberikan irama perekonomian. Akan tetapi sayangnya bagi kaum prokapitalism & sosialism, bangunan piramid ini diputarbalikan menjadi sesuatu yang bukan pada rotasinya, yaitu manusia menjadi titik epicentrum dari triangle tersebut, hingga akhirnya isme-isme yang humanitarian focus membentuk diri pribadi-pribadi manusia misoriented dalam tindakan ke-ekonomiannya, yaitu manusia yang konsumerisme, materialistik bahkan liberal economist.
Wa Allahu a’lam bi ash-shawab

0 komentar: